MENGAPA PENGOBATAN DIABET BERUJUNG
KEMATIAAN
Dilemma
pengobatan konvensional diabet secara maknawi maupun aplikasinya sudah saatnya
dikaji ulang, mengapa berobat malah makin parah?ada beberapa factor yang
menyebabkan pengobatan diabet yang berujung komplikasi,stoke, amputasi, gagal
ginjal atau kematian:
Pertama: Keyakinan
tiadanya kesembuhan bertentangan dengan aqidah
Keyakinan
yang ditamamkan medis konvensional bahwa diabet tidak ada obatnya atau tidak
bisa disembuhkan sesungguhnya bertentangan dengan aqidah Islam.bila pernyataan
tidak adanya kesembuhan itu dilontarkan ahli medis muslim, maka yang
bersangkutan harus muhasabah terhadap keimanannya.MENGAPA? karena keberaniannya
mengucapkan tiadanya kesembuhan atas suatu penyakit secara nyataa melampaui pernyataan
Al Qur’an dan Al Hadits.
Dalam
al Qur’an surat
Asy-syu’ara : 80, allah berfirman: dan
apabila aku skit maka, Dia(Allah) yang menyembuhkan.” Dengan demikian wajib
diyakini hak menyembuhkan hanya milik Allah Ta’ala sebagai pencipta
manusia,dunia beserta isinya. Bahwa Allah sangat berkuasa untuk memperbaiki
organ-organ manusia yang rusak, karena Dialah penciptanya. Karena sangat mudah
dan tak ada artinya bagi Allah ta’ala menyembuhkan atau memperbaiki organ
pancreas misalnya yang mengalami masalah/sakit. Jangankan pancreas,
mengembalikan tulang belulang yang sudah berserakan, menghidupkan yang mati,
menciptakan yang baru tidak sulit bagi Allah Ta’ala. Subhanallah…
Rasulullah
shalallahu A’laihi Wassallam melalui beberapa haditsnya menegaskan bahwa tiap
penyakit ada obatnya dan bisa di sembuhkan atas izin allah Ta’ala.
Adapun
mengenai metode pengobatan sudah ada tuntunanya, begitu pula obatnya juga sudah
diciptakan oleh Allah Ta’ala. Kita yakini bahwa Allah Maha Bertanggung Jawab
terhadap ciptaan-Nya dan menyiapkan dan memenuhi kebutuhan makhluk-Nya. Alhasil
berkenaan dengan kesehatan dan pengobatan, sejak dini Islam telah mengajarkan
secara lengkap dan sebagai panduan yang terbaik, pun tidak ada tandingannya
sebagaimana digariskan dalam Al Qur’an dan Hadits. Sayangnya sebagian kaum
muslim sendiri terpesona dengan panduan hidup sehat yang dilansir oleh barat,
termasuk metode pengobatannya.
Pernyataan
tiadanya kesembuhan untuk penyakit diabet misalnya, tentu sangat membahayakan
dan efektif merusak aqidah. Betapa pernyataan tersebut bertentangan dengan
aqidah Islam,dan lebih gawat lagimereka yang berani menyatakan adanya penyakit
yang tidak bisa disembuhkan sama saja meniadakan keberadaan dan kekuasaan Allah
Ta’ala. Karena itu mereka yang berani meniadakan kekuasaan Allah dalam
pengobatan,tentunya mereka tidak melibatkan Allah dan Rasul-Nya dalam
ikhtiar(usaha) meraih kesembuhan. Bila kita tidak melibatkan Allah dan
Rasul-Nya dalam usaha meraih kesembuhan bisa dijamin akan mengalami
kegagalan,kebuntuan, dan keputusasaan dalam pengobatan.
Kedua: pembatasan makan (diet) merusak kesehatan
Mungkinkan seseorang bisa sehat dengan mengurangi
dosis makan (diet)? Apalagi diet secara extream dari dosis yang biasanya.
Jawabanya tentu saja tidak ada yang bisa sehat dengan mengurangi dosis makan!
Buktinya penderita diabet yang diet pada umumnya kesehatanya semakin terpuruk
dan ancaman komlikasi di depan mata.
Mumburuknya kesehatan akibat diet ini jelas mudah
dipahami, karena mengurangi dosis makan tentunya akan menimbulkan masalah
tersendiri bagi kesehatan. Diet, secarta langsung akan murangi pasokan nutrisi/
gizi yang dibutuhkan tubuh makin lama seseorang menjalani diet, lambat-laun
organ-organ tubuhnya akan kekurangan nutrisi/ gizi dan energi. Bila organ-organ
kekurangan gizi otomatis membuat kinerja organ melemahdan melemahnya organ
penting seperti lambung, jantung, liver, ginjal, paru,paru mata, inilah yang
kelak mendapat giliran sakit. Pendeknya diet hanya membuat semua organ termasuk
pancreas kian melemah atau sakit. Kondisi inilah yang menjadi salah satu factor
pemicu penderita diabet amsuk wilayah komplikasi penyakit.
Penerapan diet secara extream sesungguhnya juga
bertentangan dengan sunahtullah dan kaidah Islam. Sebab kaum muslimin
diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan baik serta tidak
berlebihan. Rasulullah Shalallahu A’laihi Wassalam juga menegaskan bahwa dalam
tubuh manusia ada 360 elemen organ yang harus diberi nafkah untuk
ibadahnya.bahkan Rasulullah mendidik kita untuk memberikan makanan dengan kualitas
gizi yang baik kepada mereka yang sakit atau lemah. Seperti yang dicontohkan
Rasulullah yang selalu memberikan bubur daging kambing (tsarist) kepada sahabat
yang sakit.
Masalah diet ini bisa diibarakkan seseorang yang
didera kesulitan ekonomi pada umumnya lemah dan kurang produktif. Apa tindakan
yang baik untuk melepaskannya dari kesulitan ekonomi? Tindakan yang mulia
adalah memberi bantuan keuangan, barang, pekerjaan, atau suntikan modal lainnya
dengan dasar tuntunan baitul mal, infak, sedekah, atau zakat. Setelah mendapat
pasokan bantuan diharapkan ia hidup lebih bergairah dan produktif serta lebih
optimis menatap masa depan. Hal ini akan sangat berbeda sekali nbila
pemberlakuan kepada yang lemah dengan cara mengurangi atau membendung
sumber-sumber yang dapat mengentaskannya dari keterpurukan, atau malah
menjeratnya dengan hutang dan riba. APA JADINYA? WALLAHU A”LAM…
Ketiga : pengunaan obet sintetis
Cukup banyak penderita diabet yang sudah atau cukup
bosan menelan obat-obat sintetis, apalagi tambah hari obat yang harus diminum
makin banyak, namun kesembuhan dan kesehatan yang didambakan tak kunjung tiba.
Secara kasat mata, semakin banyak jenis obat yang ditelan tentunya semakin
banyak pula organ yang bermasalah. Karena dalam teori konvensional pada umumnya
pemberian satu obat untuk satu penyakit/ keluhan. Jadi semakinbanyak keluhannya
tentu tambah banyak obatnya.
“OBAT ITU RACUN”. Pernyataan yang umum berkembang dimasyarakat
ini ada benarnya, karena salah satu teori dalam terapan medis konvensional adalah
melawan racun dengan racun. Dengan demikian seperti diungkap pakar farmakognosi
( tanaman obat) Universitas
Indonesia Dr. abdul Mu’nim, Apt bahwa produk
farmasi sebagin besar terbuat dari bahan kimia dan barang haram pastinya
menimbulkan dampak negative dalam penggunaannya. Bila merujuk pada ajaran
Islam, dengan jelas Allah dan Rasul-Nyamelarang penggunaan barang haram sebagai
media pengobatan.
Bisa diamati dengan mudah bahwa pengaruh racun (
bahan kimia) dapat merusak tubuh, terutama organ dan darah. Mereka yang
terlampau banyak mengkonsumsi obat-obatan sintetis bisa di pastikan tingkat
pencemaran dan kerusakan organ tubuhnya. Buktinya darah segar yang dikucuri
racun (bahan kimia) atau bisa ular dengan cepat akan mengalami kerusakan bahkan
bisa membeku ( mengental ). Nah, bila darah dalam tubuh seseorang mengalami
kerusakan dan mengental, apa jadinya? Berbagai resiko penyumbatan dan
terganggunya metabolisme tubuh serta makin beratnya kinerja organ.
Dalam berbagai literature terapi medis untuk diabet
disebutkan bahwa pemakaian obat jangka panjang akan mengakibatkan komplikasi
liver dan ginjal sehingga pada akhirnya penderita diabet menjadi terganggu
livernya, sirosis maupun kanker hati atau gagal ginjal yang mengharuskanya cuci
darah (hemodialisa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar