Jumat, 06 Juli 2012

DIABET 2


TIDAK BISA SEMBUH?

Siapa bilang ‘DIABET’ tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan? Bahkan ada yang menakuti dengan menyebut diabet THE SILENT KILLER. Belum lagi terror yang menghantui masyarakat bahwa kebanyakan penderita diabet terancam komplikasi dan harus waspda kena stroke, cuci darah, atau di aputansi? Alhasil diabet menjadi momok yang mencekam dan mengusik ketenangan. Pada gilirannya  banyak orang yang semakin cemas dan mulai jaga jarak dengan segala yang manis.
Pada gilirannya, takaran gula darah yang di tancapkan di kepala atau di dada mereka yang kebetulan gula darahnya sedang up/naik. Vonis “anda menderita diabetes!” atau “kencing manis” ini semakin diyakini manakala gejala-gejala yang diurai petugas medis ada kesesuaian.
Sampai saat ini barangkali ada lebih dari 21 juta warga Indonesia yang tengah sibuk menjalani terapi diabet dari usia muda sampai senja. Sedangkan penduduk dunia pada kisaran 12-20% dan setiap 10 detik ada yang wafat lantaran dampak komplikasi diabet. Ya, terlalu banyak kisah memilukan tentang derita berkepanjangan serial diabetes mellitus.
Lalu bagaimana nasip penderita diabet? Mengapa penyakit ini berujung penderitaan seumur hidup? Mengapa banyak yang berusaha berobat namun tak kunjung sembuh, bahkan sebaliknya. Apakah memang diabet tidak ada solusinya? Atau memang medis yang tak mampu mengobatinya hingga pasien diabet bisa hidup normal kembali ? atau… memang ada rekayasa terselubung untuk melumpuhkan masyarakat dengan vonis diabet? Lantas mereka yang menjalani pengobatan yang justru menjerumuskannya dalam keterpurukan kesehatan dan mempercepat ajalnya?
Sesungguhnya pengobatan diabet secar konvensional yang berlangsung selama ini sangat membinggungkandan cendrung tidak masuk akal. Karena bertentangan dengan definisi atau tujuan pengobatan itu sendiri. Pengobatan adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai kesembuhan, atau usaha merubah kondisi sakit menjadi sehat, atau mengembalikan kondisi tidak stabil menjadi stabil, atau memperbaiki kondisi yang kurang kuat menjadi lebih kuat. Anehnya pengobatan pengobatan yang dijalani penderida diabet pada umumnya bertolak belakang dengan harapan, bahkan bertentangan dengan definisi dan tujuan pengobatan itu sendiri. Tentu hal ini sangat memprihatinkan, artinya mereka yang di VONIS MENDERITA DIABET pada umumnya berusaha menjalani pengobatan, namaun lembaga medis dan para ahlinya tidak menjanjikan harapan baik, bahkan tidak sedikit menggiring pasiennya dalam KEPUTUSASAAN.
Idealnya ahli pengobatan berupaya memenuhi harapan pasien dan maksud dan tujuan pengobatan itu sendiri. Jadi, ketika seseorang divonis diabet, para ahli pengobatan sudah merumuskan tindakannya dengan rapid an pembuktian (testimosni) mereka yang memperoleh kesembuhan hidup normal setelah menjalani terapi.
Sayangnya hal ini sulit ditemukan, dan yang banyak dijumpai pengobatan diabet yang di jalani membuat kondisi penderitanya semakin terpuruk. Selakanya lagi, penderita baru diabet menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri anggota keluarganya atau mereka yang stroke, cuci darah, diamputasi, dan meninggal mengenaskan setelah bertahun-tahun menjalni pengobatan kencing manis.
Wajar kiranya jika banya orang yang berbisik dalam hatinya: berobat kok makin parah, seharusnya kan makin enak dan sembuh…apa memang tidak ada obatnya atau yang ngobati perlu melakukan instropeksi?”
Jelas pengobatan diabet yang dijalani masyarakan selama ini menimbulkan banya pertanyaan besar, karena belum adanya pembuktian seseorang yang sembuh atau hidup normal setelah bertahun-tahun berobat. Hal ini sungguh bertentangan dengan logika umum, bahwa misalnya kita mempunya kendaraan yang kurang sehat, lalu dibawa kebengkel, setelah di servis tentunya kondisi kendaraan membaik atau sehat lagi. Begitu pula bila rumah kita mengalami kerusakan, lalu diperbaiki, ya rumah itu sehat lagi dan banyak contoh lain. Nah, apa yang kita lakukan bila setelah keluar dari bengkel kondisi kendaraan kita memburuk?
Sudah saatnya kita melakukan instropeksi terhadap pengobatan diabet yang di jalani/ apalagi membuat kondisi semakin terpuruk. Lebih dari itu harus ada upaya menghindari pengobatan yang mendzalimi pasien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar