TIDAK BISA SEMBUH?
Siapa
bilang ‘DIABET’ tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan? Bahkan
ada yang menakuti dengan menyebut diabet THE
SILENT KILLER. Belum lagi terror
yang menghantui masyarakat bahwa kebanyakan penderita diabet terancam
komplikasi dan harus waspda kena stroke, cuci darah, atau di aputansi? Alhasil
diabet menjadi momok yang mencekam dan mengusik ketenangan. Pada
gilirannya banyak orang yang semakin
cemas dan mulai jaga jarak dengan segala yang manis.
Pada gilirannya, takaran gula
darah yang di tancapkan di kepala atau di dada mereka yang kebetulan gula
darahnya sedang up/naik. Vonis “anda menderita diabetes!” atau “kencing manis”
ini semakin diyakini manakala gejala-gejala yang diurai petugas medis ada
kesesuaian.
Sampai
saat ini barangkali ada lebih dari 21 juta warga Indonesia yang tengah sibuk
menjalani terapi diabet dari usia muda sampai senja. Sedangkan penduduk dunia
pada kisaran 12-20% dan setiap 10 detik ada yang wafat lantaran dampak
komplikasi diabet. Ya, terlalu banyak kisah memilukan tentang derita
berkepanjangan serial diabetes mellitus.
Lalu
bagaimana nasip penderita diabet? Mengapa penyakit ini berujung penderitaan
seumur hidup? Mengapa banyak yang berusaha berobat namun tak kunjung sembuh,
bahkan sebaliknya. Apakah memang diabet tidak ada solusinya? Atau memang medis
yang tak mampu mengobatinya hingga pasien diabet bisa hidup normal kembali ?
atau… memang ada rekayasa terselubung untuk melumpuhkan masyarakat dengan vonis
diabet? Lantas mereka yang menjalani pengobatan yang justru menjerumuskannya
dalam keterpurukan kesehatan dan mempercepat ajalnya?
Sesungguhnya
pengobatan diabet secar konvensional yang berlangsung selama ini sangat
membinggungkandan cendrung tidak masuk akal. Karena bertentangan dengan
definisi atau tujuan pengobatan itu sendiri. Pengobatan adalah usaha yang
dilakukan seseorang untuk mencapai kesembuhan, atau usaha merubah kondisi sakit
menjadi sehat, atau mengembalikan kondisi tidak stabil menjadi stabil, atau
memperbaiki kondisi yang kurang kuat menjadi lebih kuat. Anehnya pengobatan
pengobatan yang dijalani penderida diabet pada umumnya bertolak belakang dengan
harapan, bahkan bertentangan dengan definisi dan tujuan pengobatan itu sendiri.
Tentu hal ini sangat memprihatinkan, artinya mereka yang di VONIS MENDERITA DIABET pada umumnya berusaha menjalani pengobatan, namaun
lembaga medis dan para ahlinya tidak menjanjikan harapan baik, bahkan tidak
sedikit menggiring pasiennya dalam KEPUTUSASAAN.
Idealnya
ahli pengobatan berupaya memenuhi harapan pasien dan maksud dan tujuan
pengobatan itu sendiri. Jadi, ketika seseorang divonis diabet, para ahli
pengobatan sudah merumuskan tindakannya dengan rapid an pembuktian (testimosni)
mereka yang memperoleh kesembuhan hidup normal setelah menjalani terapi.
Sayangnya hal ini sulit
ditemukan, dan yang banyak dijumpai pengobatan diabet yang di jalani membuat
kondisi penderitanya semakin terpuruk. Selakanya lagi, penderita baru diabet
menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri anggota keluarganya atau mereka yang
stroke, cuci darah, diamputasi, dan meninggal mengenaskan setelah
bertahun-tahun menjalni pengobatan kencing manis.
Wajar
kiranya jika banya orang yang berbisik dalam hatinya: ‘ berobat kok
makin parah, seharusnya kan
makin enak dan sembuh…apa memang tidak ada obatnya atau yang ngobati perlu
melakukan instropeksi?”
Jelas
pengobatan diabet yang dijalani masyarakan selama ini menimbulkan banya
pertanyaan besar, karena belum adanya pembuktian seseorang yang sembuh atau
hidup normal setelah bertahun-tahun berobat. Hal ini sungguh bertentangan
dengan logika umum, bahwa misalnya kita mempunya kendaraan yang kurang sehat,
lalu dibawa kebengkel, setelah di servis tentunya kondisi kendaraan membaik atau
sehat lagi. Begitu pula bila rumah kita mengalami kerusakan, lalu diperbaiki,
ya rumah itu sehat lagi dan banyak contoh lain. Nah, apa yang kita lakukan bila
setelah keluar dari bengkel kondisi kendaraan kita memburuk?
Sudah
saatnya kita melakukan instropeksi terhadap pengobatan diabet yang di jalani/
apalagi membuat kondisi semakin terpuruk. Lebih dari itu harus ada upaya
menghindari pengobatan yang mendzalimi pasien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar